Sore itu cukup panas, seperti biasa dengan langkah kaki yang terburu-buru aku mengejar bus yang biasa kugunakan untuk mengantarku pulang kembali ke rumah kost. Dari Lapangan Banteng sampai Setiabudi, ya itulah rute perjalanan yang aku lewat sehari-hari.
Namun sore itu tampak berbeda, ketika melewati Tugu Tani, aku melihat dari kejauhan lima baliho besar dengan masing-masing bertuliskan kalimat yang tidak asing bagiku. Ada apakah gerangan?
Semakin bus ini mendekat, semakin jelaslah setiap tulisan yang terbaca:
Baliho 1: Ketuhanan Yang Maha Esa
Baliho 2: Kemanusiaan yang adil dan beradab
Baliho 3: Persatuan Indonesia
Baliho 4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan
Baliho 5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Seketika itu pula hati ini bergejolak! Itu adalah Pancasila. Sudah lama sekali aku tidak membaca Pancasila, apalagi melafalkannya.. Tak terasa pula saat bus ini menjauhi kelima baliho itu, semakin terbentanglah bendera merah putih di sepanjang jalan Cikini menuju Stasiun Gondangdia, gejolak ini pun semakin menjadi-jadi!
Ketika bus ini berhenti demi seorang penumpang di depan Taman Ismail Marzuki, aku melihat sebuah tulisan diatas baliho besar, sebuah puisi yang menggelorakan semangat kebangsaan setiap orang yang membacanya, sebuah curahan hati dari founding father kita : Bung Karno. Judul dari puisi tersebut adalah: Aku melihat Indonesia.
Sekejap aku membaca puisi itu, aku merasa seperti berhadapan langsung dengan sang founding father. Semangat kebangsaanku terbakar, jiwa Indonesiaku menggelora, tetapi hatiku trenyuh dan galau. Apakah aku sudah bisa melihat Indonesia sama seperti Bung Karno melihatnya? Apakah aku sudah berjuang demi Indonesia sama seperti Bung Karno berjuang? Aku merasa perjuanganku belum cukup, aku masih harus berjuang lagi demi Indonesia! Agar aku bisa melihat Indonesia seperti dirinya..
Terima kasih Bung Karno, walaupun engkau telah tiada, tetapi lewat karya-karyamu, engkau masih terus membangkitkan semangat manusia-manusia Indonesia..

Aku Melihat Indonesia
Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak IndonesiaJikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat IndonesiaJika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat IndonesiaJikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar IndonesiaJika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup IndonesiaJika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!
Posted by Budi Satrio 





